Minggu, 05 Desember 2010

Modernisasi, Ekonomi dan Budaya

Profil :Mardani Ahmad
Masuknya arus modernisasi yang sedemikian deras ternyata terlalu over (berlebih) sehingga berakibat pada perubahan social yang di paksakan oleh sebuah keadaan. Tidak berimbangnya antara kesiapan dengan keadaan mengakibatkan terjadinya kemerosotan pengetahuan, ekonomi, nilai-nilai kearifan lokal, sosial dan moralitas. Masyarakat  yang cenderung terus membuka diri di tengah arus modernisasi mengakibatkan mereka tidak sadar keterbukaanya tersebut ternyata telah banyak merugikan dirinya dan orang lain. Masyarakat modern yang cenderung individualis dan cenderung menyukai hal-hal baru yang menjadi sebuah trend tanpa lagi memperdulikan akan melanggar nilai-nilai yang ada.

Nilai-Nilai Kearifan Lokal (Budaya), Sosial  dan Moralitas 

Pergeseran budaya yang diakibatkan masuknya budaya-budaya luar yang begitu terbuka sehingga budaya apapun dapat dengan mudah masuk tanpa adanya proses penyaringan budaya. Akibatnya budaya asli akan tergerus oleh budaya baru yang terus menggerus. Seakan tidak menjadi sebuah masalah, budaya yang ternyata melunturkan nilai-nilai kearifan lokal bangsa ini. Dari berbagai segi baiknya hal ini perlu dipahami dan ditangani, karena masuknya budaya luar ternyata lebih banyak negatif ketimbang nilai positif. Dalam lingkungan social sudah tidak bias kita pungkiri banyak dampak yang kita sering jumpai di lingkungan, bahwa telah banyak perubahan karakteristik anak-anak, orang dewasa yang berprilaku tidak sebagai mana mestinya mereka menjalani kehidupan berbudaya. Begitu banyak anak-anak yang berprilaku seperti orang dewasa sehingga terkesan budaya  sopan santun telah terkikis dari bangsa ini. Prilaku sebagian/beberapa orang dewasa yang banyak menyimpang, seperti pergaulan bebas, narkoba, seks bebas serta cara berprilaku dan berpakaian mengikuti gaya hidup hedonis artis-artis luar negri padahal situasi tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa.

Peningkatan ilmu pengetahuan di bidang teknologi seharusnya menjadi tolak ukur agar setiap generasi yang akan terlahir selanjutnya tidak hanya berprilaku knsumtif tetapi mampu menciptakan sesuatu yang berteknologi modern yang sesuai dengan zaman yang juga modern. kemudian memanfaatkan teknologi sebagai media kretifitas dalam berbudaya, tanpa terakoptasi dengan hal-hal yang negatif agar mampu menumbuhkan kecintaan pada bangsa  yang kaya akan keaneka ragaman budayanya tentunya dengan mempertahankan budaya-budaya yang menjadi kearifan lokal daerah-daerah yang tersebar di bangsa ini. “Negri ini indah seperti pelangi, berbeda-beda tetapi mempesona orang yang melihatnya, tetapi jangan sampai disini turun hujan dan petir yang menyambar, karena ketika itu terjadi maka pelangi yang indah akan kehilangan wujudnya”.

 Pengetahuan dan Ekonomi

Menurut Frop. Bacharuddin Jusuf Habibie saat memberikan materi Stadium General pada pembukaan Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke XXVII di Geraha Insan Cita Depok mengatakan “Modernisasi harus di imbangi dengan pengetahuan teknologi, karena pengetahuan teknologi akan mampu memberikan apa yang kita butuhkan. Kalau kita perhatikan bahwa kecanggihan teknologi juga akan di sertai dengan peningkatan kualitas dan ekonomi, saya berikan contoh semisal sebuah kendaraan mobil bermerek Kijang dengan mobil bermerek  Mersedes Benz tentunya harga dan kualitas di kendarainya jauh berbeda, tetapi ketika terjadi kecelakaan antara dua mobil tersebut dan kedua mobil tersebut hancu, maka kedua barang rongsokan itu akan sama harga per kilonya di penampungan barang-barang bekas”. Nah dari perkataan seorang Profesor yang sering kita dengar mampu membuat pesawat tersebutlah dapat kita pahami bahwa ilmu pengetahuan di bidang teknologi tenyata begitu penting, Sehingga kelak mampu memunculkan SDM pencipta barang-barang berkualitas berteknologi modern dan dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam negri sendiri. Pembicaraan modernisasi tentunya tidak terlepas dari pembicaraan kecanggihan teknologi yang menjadi sarana begitu cepatnya menyebarkan nilai-nilai modernisasi, kecanggihan dan berkembangnya ilmu pengetahuan di bidang teknologi menjadi sebuah ukuran suatu masyarakat dianggap sebagai masyarakat yang siap terhadap kondisi yang modern. Berkaca pada keadaan yang terjadi di bangsa ini, saat teknologi canggih terus merangsek masuk dalam kaca perekonomian bangsa, ternyata kekuatan Sumber daya Manusia (SDM) bangsa ini tidak mampu membendung serbuan teknologi canggih karena pasar ternyata membutuhkan itu, hal tersebut menurut penulis adalah sebuah kewajaran, alasanya adalah karena begitu banyaknya permintaan pasar kemudian produksi dalam negri  tidak mampu menyediakan kebutuhan tersebut, maka kondisi itu dimanpaatkan sebagai peluang oleh SDM bangsa lain yang mampu memenuhi kebutuhan pasar tersebut. (dani MA)

Kepemimpinan Pemuda

Bumi.com (5/12) _ Memimpin kelompok, organisasi, perusahaan, apalagi negara memang tidaklah gampang. Tapi, tidak pula susah. Disebut memimpin berarti ada yang dipimpin. Ada mitra kerja (atau bisa disebut bawahan) yang akan menggalang kebersamaan untuk mencapai tujuan yang telah disepakati.

Jabatan pemimpin adalah sebuah amanah. Apalagi jika yang dipimpinnya adalah organisasi dakwah yang punya cita-cita tinggi, yakni berupaya melanjutkan kehidupan Islam. Insya Allah hal itu merupakan amal shaleh, tentu saja jika ikhlas melakukannya. Karena memimpin adalah amanah, maka seorang pemimpin tidak berhak menjadikan organisasi yang dipimpinnya sebagai hak milik pribadi, sehingga merasa perlu dan wajib (menurut ukuran diri sendiri) untuk memperlakukan organisasi. tersebut sesuai kehendaknya, atau merasa berhak mengorbankan bawahan dengan berlindung atas nama penyelamatan organisasi.

Menjadi pemimpin bukan berarti anti kritik. Bukan pula harus merasa benar sendiri. Sehingga anekdot dalam kepemimpinan akhirnya berlaku,  “Pemimpin tak pernah salah,  Jika pemimpin bersalah, kembali kepada pernyataan pertama”. Tentu ini sangat menggelikan dan sungguh merupakan kepemimpinan yang kritis.

Kepemimpinan yang baik memang bukan berarti tanpa cela. Sebagaimana halnya manusia yang bertakwa bukanlah yang selalu benar dalam menjalani kehidupannya, tapi manusia yang bertakwa adalah ketika ia berbuat salah, segera bertaubat. Itu artinya, pemimpin yang baik bukan berarti selalu benar, apalagi merasa benar sendiri.

Maka, mendengarkan masukan dari bawahan, adalah hal yang sangat dianjurkan. Karena pemimpin tidaklah sempurna. Masih ada celah untuk lupa, termasuk berbuat maksiat. Jadi, ada baiknya mendengarkan harapan dari bawahan. Tak ada salahnya bukan?Jika sebagai pemimpin menginginkan ketaatan yang kritis (cerdas) dari bawahannya, bukan ketaatan yang kritis (mengkhawatirkan), maka tentunya harus memberikan teladan yang baik kepada bawahan. Bagaimana pun juga, pemimpinlah yang seharusnya dan punya kewajiban memberikan teladan, karena seorang pemimpin lebih mungkin untuk didengar dan dipercayai. Lagi pula, bagaimana mungkin diangkat dan dipilih jadi pemimpin jika tidak bisa dijadikan teladan. Seseorang yang memimpin pasti umumnya lebih baik dari orang kebanyakan. Lebih baik semangatnya, lebih baik ilmunya, lebih baik kesabarannya, lebih baik segalanya. (AN)